Notification

×

Iklan

Iklan

Resmikan Closed Barn di Pasuruan, Wamenko Pangan Dorong Rekayasa Iklim untuk Genjot Produksi Susu Nasional

Selasa, 21 Juli 2026 | Juli 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-21T14:01:14Z


PASURUAN, pojoktelu.com
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pasuruan pada Selasa (21/7/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk meresmikan Fasilitas Closed Barn sekaligus menghadiri Serah Terima Sapi Impor dari Nestlé Indonesia kepada peternak sapi perah binaan KUD Dadi Jaya, Kecamatan Purwodadi.

Hanif menegaskan bahwa kehadiran closed barn (kandang tertutup) sangat berpengaruh pada produktivitas sapi dan kualitas susu yang dihasilkan. Sistem ini memanfaatkan teknologi modern yang mengatur ventilasi, suhu, dan kelembapan secara otomatis.

"Sistem ini dirancang untuk menjaga lingkungan di dalam kandang tetap optimal, melindungi ternak dari perubahan cuaca ekstrem, serta mencegah penularan penyakit," ujar Hanif.

Hanif juga mengapresiasi langkah Nestlé Indonesia yang peduli pada kesejahteraan peternak di sektor hulu. Melalui inovasi rekayasa iklim mikro pada closed barn, sapi perah asal luar negeri yang biasa hidup di daerah subtropis kini tidak hanya bisa berkembang di pegunungan, tetapi juga di dataran rendah.

"Selama ini, mayoritas sapi perah kita hanya hidup di pegunungan, seperti Lembang di Jawa Barat, atau Pasuruan dan Malang di Jawa Timur. Lewat inovasi Nestlé ini, sapi-sapi tersebut bisa ditarik ke dataran rendah sehingga produktivitasnya dapat terus digenjot," imbuhnya.

Ke depan, Hanif berharap Nestlé Indonesia dan Pemkab Pasuruan semakin intensif bekerja sama untuk melahirkan sintesis baru dalam rekayasa iklim mikro. Tujuannya agar sapi perah dari wilayah subtropis dapat tumbuh dan berkembang pesat di dataran rendah Indonesia.

"Saya meminta Pak Bupati dan Nestlé berkolaborasi intensif untuk menghasilkan rekayasa micro-climate ini, agar sapi perah subtropis bisa produktif di dataran rendah," harapnya.

Lebih lanjut, Hanif menjelaskan strategi pembagian wilayah dalam pengembangan closed barn. Wilayah pegunungan akan difokuskan pada pengaturan tata air, sementara daerah dataran rendah diproyeksikan menjadi pusat produksi utama.

"Riset dan penelitian ini harus dikembangkan secara masif. Kita harus optimistis bahwa sapi-sapi di dataran tinggi nantinya bisa diturunkan ke bawah. Di atas bertugas menjaga tata air, di bawah menjadi kawasan produksi," jelasnya.

Langkah inovasi ini dinilai krusial untuk menekan angka impor. Hanif memaparkan bahwa konsumsi susu nasional saat ini mencapai 4,7 juta ton per tahun. Sayangnya, sekitar 75-80% dari kebutuhan tersebut masih harus dipenuhi lewat impor, baik dalam bentuk bahan baku susu maupun sapi perah. Produksi lokal baru menyumbang 20-25% akibat populasi sapi perah yang masih rendah.

"Di Indonesia, Jawa Timur menjadi tulang punggung dengan menyumbang sekitar 57 hingga 60 persen dari total produksi susu nasional," kata Hanif.

Sementara itu, Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Nestlé Indonesia yang terus mendukung program pemerintah, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi makro hingga program penurunan stunting di Kabupaten Pasuruan.

"Terima kasih kepada Nestlé Indonesia yang konsisten berkontribusi membina peternak sapi perah lokal, serta menyukseskan program strategis daerah seperti penanganan stunting," ungkap pria yang akrab disapa Mas Rusdi tersebut.

Terkait fasilitas closed barn, Mas Rusdi mendukung penuh langkah Nestlé Indonesia karena menjadi solusi konkret atas permasalahan fundamental industri persusuan nasional melalui penyesuaian habitat ternak.

"Tantangan utama kita adalah ketergantungan impor sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu. Langkah Nestlé ini sangat luar biasa, karena jarang ada perusahaan skala global yang mau turun langsung membenahi pondasi awal, yaitu kemitraan erat dengan para peternak lokal," pungkasnya. (*)
×
Berita Terbaru Update