Notification

×

Iklan

Iklan

Puncak Ruwatan Agung Nuswantoro, Anggota GMBI Jatim Padati Air Terjun Putuk Truno

Sabtu, 22 Agustus 2026 | Agustus 22, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-22T12:38:03Z


PASURUAN, pojoktelu.com
Rangkaian Ruwatan Agung Nuswantoro yang digelar oleh LSM GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) Wilayah Teritorial Jawa Timur memasuki puncak acara pada Sabtu (22/8/2026). Prosesi ritual adat yang berlangsung khidmat ini digelar di kawasan wisata Air Terjun Putuk Truno, Kelurahan/Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Agenda tahunan ini dihadiri langsung oleh perwakilan distrik GMBI dari berbagai kabupaten dan kota se-Jawa Timur.

Sebelum menuju lokasi utama, para peserta berkumpul di Lapangan Kelurahan Prigen untuk melakukan long march menuju Air Terjun Putuk Truno. Dalam iring-iringan tersebut, puluhan anggota membentangkan kain Merah Putih sepanjang 40 meter.

Mereka juga mengarak berbagai ubo rampe dan tumpeng sebagai kelengkapan utama prosesi Ruwatan Agung Nuswantoro.

Setibanya di lokasi air terjun, prosesi ritual dipimpin oleh dalang kondang Ki Winarno Sabdo. Di bawah gemercik air terjun, sejumlah peserta duduk bersila dengan khusyuk sembari memegang tokoh wayang masing-masing.

Suasana mistis dan sakral kian terasa saat Ki Winarno maju mendekati kedung air terjun sembari memainkan dua lakon wayang sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan.

Ketua LSM GMBI Wilter Jatim, Sugeng SP, menjelaskan bahwa Ruwatan Agung Nuswantoro ini merupakan wahana spiritual bagi seluruh kader GMBI untuk merefleksikan tanggung jawab terhadap situasi dan kondisi bangsa.

"GMBI punya komitmen bahwa Ruwatan Agung ini sebagai wahana atau sarana spiritual kami untuk ikut bertanggung jawab terhadap situasi kondisi negara secara keseluruhan. Jadi ini adalah murni karena gerakan anak-anak bangsa yang cinta terhadap NKRI," ujar Sugeng di sela-sela acara.

Mengenai pembentangan kain Merah Putih sepanjang 40 meter, Sugeng mengungkapkan adanya makna simbolis yang mendalam. Angka 40 dinilai sebagai bilangan yang penuh kesakralan dalam tradisi nusantara.

"40 adalah bilangan yang kami anggap sakral. Sehingga ini adalah perpaduan antara kesakralan bentuk lahiriah dengan dimensi spiritual," jelasnya.

Lebih lanjut, Sugeng menekankan pentingnya pembinaan spiritual dalam membangun karakter anggota LSM GMBI. Menurutnya, lembaga yang dipimpinnya tersebut konsisten menerapkan empat pilar pembinaan, di mana pendewasaan spiritual menjadi fondasi utamanya.

"Kami di GMBI diajarkan empat hal, salah satunya pendewasaan spiritual. Seseorang harus dibina spiritualnya terlebih dahulu untuk menjadi manusia yang hebat," tegas Sugeng.

Ia menambahkan, kematangan spiritual sangat krusial bagi seseorang yang kelak menjadi pemimpin. Ketika aspek spiritual seseorang telah tertata, maka kecerdasan emosionalnya akan lebih terkontrol, tutur katanya menjadi penuh makna, dan perilakunya akan mencerminkan pribadi yang baik di masyarakat.

Sugeng berharap, keberadaan LSM GMBI dapat terus berkembang pesat dan membawa dampak positif yang luas di seluruh wilayah Jawa Timur.

"Hari ini kami berada di tengah-tengah Jawa Timur, tapi kami punya cita-cita yang besar, Jawa Timur harus berada di tengah-tengah GMBI. Kami ingin GMBI bisa besar dan menggema di seluruh pelosok Jawa Timur," pungkasnya.
×
Berita Terbaru Update