PASURUAN, pojoktelu.com - Bagi sebuah keluarga, melihat anak tumbuh sehat tentu menjadi harapan sederhana. Anak bisa bermain, berlari, belajar dan tumbuh sesuai usianya menjadi kebahagiaan yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar angka di atas kertas.
Harapan itulah yang kini ingin dijaga Pemerintah Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Meski kasus stunting di desa tersebut disebut sudah menurun dan berada pada jumlah yang sangat sedikit, pemerintah desa tidak ingin berhenti pada capaian tersebut.
Rabu, (16/09/2026). Melalui Musyawarah Desa (Musdes) Rembuk Stunting Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting, Pemerintah Desa Ngerong mulai mematangkan langkah penanganan dan pencegahan stunting untuk dimasukkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa Tahun 2027.
Kepala Desa Ngerong, Jemik Sadiman, mengatakan capaian penurunan kasus stunting Di Desa Ngerong tidak banyak. Bahkan dari tahun ke tahun kasus stunting di Desa Ngerong kian menurun.
“Di Desa Ngerong dari ratusan balita yang ada, yang stunting bisa kalau tidak salah hanya 12 anak, cuma 1,6%,” katanya.
Namun bagi Jemik, sedikit bukan berarti persoalan selesai. Justru ketika kasus sudah menurun, perhatian harus semakin diarahkan kepada anak-anak yang masih membutuhkan pendampingan. Pemerintah desa ingin memastikan tidak ada keluarga yang berjalan sendiri ketika menghadapi persoalan pertumbuhan anak.
Jemik menyebut penurunan kasus dibandingkan tahun sebelumnya merupakan perkembangan yang menggembirakan. Tetapi stunting tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama.
“Alhamdulillah ada penurunan daripada tahun kemarin. Masalah stunting ini PR. Kita usahakan sama-sama masalah stunting di Desa Ngerong ini menjadi zero stunting,” tegasnya.
Target tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam pembahasan Rembuk Stunting. Sebab, upaya mencegah stunting tidak hanya dilakukan ketika seorang anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan.
Perhatian harus dimulai sejak keluarga merencanakan kehamilan, masa kehamilan, kelahiran hingga anak melewati periode pertumbuhan penting. Peran orang tua, kader Posyandu, tenaga kesehatan dan pemerintah desa menjadi saling berkaitan.
Di tingkat desa, berbagai persoalan yang terlihat sederhana dalam kehidupan sehari-hari juga dapat berkaitan dengan tumbuh kembang anak, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi, pola asuh, akses layanan kesehatan, sanitasi hingga kondisi sosial ekonomi keluarga.
Karena itu, Rembuk Stunting menjadi ruang untuk melihat persoalan tersebut secara lebih dekat. Bukan sekadar menghitung berapa anak yang masuk kategori stunting, tetapi juga mencari tahu mengapa seorang anak berisiko mengalami masalah pertumbuhan dan apa yang bisa dilakukan sebelum kondisinya semakin berat.
Dalam sambutannya, Jemik juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyebut anak bertubuh pendek sebagai stunting. Menurutnya, kondisi pertumbuhan anak perlu dilihat berdasarkan pemeriksaan dan pengukuran yang benar. Faktor genetik juga perlu dibedakan dari kondisi stunting.
Hal tersebut penting agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada anak maupun keluarganya. Status stunting bukan ditentukan hanya dari melihat tubuh anak secara kasatmata, melainkan melalui pengukuran pertumbuhan sesuai standar dan penilaian tenaga kesehatan.
Pemerintah sendiri mendefinisikan stunting sebagai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan berada di bawah standar yang ditetapkan.
Dengan demikian, upaya pencegahan tidak cukup hanya berbicara soal makanan bergizi. Pengasuhan, kesehatan ibu dan anak, kebersihan lingkungan, sanitasi serta akses terhadap pelayanan kesehatan juga menjadi bagian dari upaya yang harus berjalan bersama.
Musdes Rembuk Stunting di Desa Ngerong selanjutnya menjadi pijakan untuk menyusun kebutuhan dan program desa dalam RKP Desa 2027.
Harapannya, program yang nantinya direncanakan benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan. Terutama keluarga dengan balita, ibu hamil maupun kelompok yang memiliki risiko terhadap persoalan pertumbuhan anak.
Menurut Jemik, capaian Ngerong yang sudah memiliki kasus stunting rendah seharusnya tidak membuat semua pihak merasa aman. Sebaliknya, kondisi itu harus menjadi modal untuk bekerja lebih keras agar kasus yang tersisa dapat ditangani dan kasus baru dapat dicegah.
Sebab di balik satu angka kasus stunting, ada seorang anak dan ada sebuah keluarga yang membutuhkan perhatian. Itulah pekerjaan rumah yang ingin diselesaikan Ngerong. Bukan sekadar mengejar statistik, tetapi memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan berkembang.
