PASURUAN, pojoktelu.com - Persoalan sampah di lingkungan pondok pesantren kini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan. Pondok Pesantren (Ponpes) Ngalah yang terletak di Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, resmi dipilih menjadi salah satu percontohan (role model) pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis santri.
Langkah strategis ini diambil bukan tanpa alasan. Memiliki 19 asrama dengan populasi mencapai hampir 10 ribu santri, aktivitas domestik di lingkungan Ponpes Ngalah menghasilkan timbulan sampah yang sangat besar. Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan mencatat, volume sampah dari kawasan pesantren ini menembus hampir 6 ton hanya dalam waktu sepekan.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemkab Pasuruan menegaskan bahwa penanganan sampah skala besar tidak bisa lagi menggunakan cara konvensional, seperti sekadar mengangkutnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau membakarnya. Pengelolaan mutakhir harus dimulai langsung dari hulu atau sumbernya, yakni dengan mengubah kebiasaan warga pesantren dalam memilah dan mengurangi sampah.
Guna mewujudkan ekosistem bersih tersebut, Pemkab Pasuruan melalui DLH bersinergi dengan DPRD Kabupaten Pasuruan serta sektor swasta, PT Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia). Kolaborasi ini diwujudkan melalui peluncuran program Pesantren Ramah Lingkungan di Ponpes Ngalah, Jumat (11/9/2026).
Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Samsul Hidayat, menyatakan bahwa program ini merupakan langkah konkret kolaborasi lintas sektor untuk mengedukasi sekaligus membangun budaya baru dalam menangani sampah di lingkungan keagamaan.
“Pondok Pesantren Ngalah kami harapkan menjadi role model bagi pondok pesantren lainnya. Di sini berkumpul ribuan orang. Ketika aktivitas warga pesantren tinggi, otomatis potensi sampah yang dihasilkan juga mengikuti,” ujar pria yang akrab disapa Lek Sul tersebut.
Politisi PKB ini menegaskan, tantangan terbesar dari program ini bukan pada penyediaan fasilitas fisik seperti tong sampah, melainkan pada konsistensi perubahan perilaku ribuan santri.
Menurutnya, Ponpes Ngalah memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk menyukseskan program ini karena didukung oleh seluruh elemen pesantren.
“Kekompakan di Ponpes Ngalah ini luar biasa, mulai dari pengasuh induk, pengasuh asrama, pengurus, hingga tenaga pendidik dari tingkat TK sampai perguruan tinggi di Universitas Yudharta. Modal sosial ini sangat kuat, tinggal sekarang kita bentuk pembiasaan santri dalam memilah sampah setiap hari,” tambah Lek Sul.
Melalui program Pesantren Ramah Lingkungan, DLH Kabupaten Pasuruan tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi juga menerjunkan fasilitator untuk memberikan pendampingan dan pelatihan teknis. Sampah kini mulai dipilah sejak dari asrama berdasarkan jenisnya, terutama organik dan anorganik, dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Sampah yang masih memiliki nilai ekonomis nantinya akan disalurkan melalui bank sampah. Mekanisme ini dirancang tidak hanya untuk menghasilkan nilai ekonomi tambahan, tetapi juga menjadi laboratorium karakter bagi para santri untuk belajar tentang kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap kelestarian bumi.
Program ini diharapkan membawa efek domino yang luas. Karakter peduli lingkungan yang melekat pada diri santri selama di asrama diharapkan tetap dipraktikkan saat mereka lulus dan kembali ke tengah-tengah masyarakat.
Jika model pengelolaan di Ponpes Ngalah ini berjalan konsisten, pesantren ini tidak hanya sukses menjadi pusat pendidikan agama dan formal, tetapi juga menjadi pelopor perubahan lingkungan yang siap direplikasi oleh ratusan pesantren lain di Kabupaten Pasuruan.
