Notification

×

Iklan

Iklan

Wisata Petik Melon Hidroponik BUMDes Candinegoro Resmi Dibuka, Bupati Subandi Puji Inovasi Smart Farming

Sabtu, 05 September 2026 | September 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-05T16:54:23Z

SIDOARJO, pojoktelu.com - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gapura Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, sukses meluncurkan inovasi wisata edukasi berbasis pertanian modern. Destinasi agrowisata baru ini diresmikan langsung oleh Bupati Sidoarjo, H. Subandi, pada Sabtu (5/9/2026).

Mengusung konsep pertanian modern, BUMDes Gapura menyuguhkan sensasi wisata petik melon hidroponik langsung dari pohonnya. Langkah kreatif para pemuda Desa Candinegoro ini diwujudkan melalui pembangunan fasilitas greenhouse seluas 400 meter persegi. Di dalamnya, sebanyak 1.030 bibit melon varietas unggulan kelas premium, seperti Intanon dan Sakata, dibudidayakan secara intensif.


Bupati Sidoarjo, H. Subandi, memberikan apresiasi yang tinggi atas terobosan ini. Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa, tetapi juga menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat yang patut dicontoh wilayah lain.

"Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen penuh untuk melakukan pengawalan dan siap mengucurkan bantuan bagi perkembangan BUMDes. Sebab, setiap desa di Sidoarjo memiliki keunikan dan potensi ekonomi yang berbeda-beda," tegas Subandi usai memetik melon perdana.

Subandi menambahkan, pemanfaatan potensi lokal baik di sektor budidaya cabai, sayuran, perikanan, maupun kuliner harus terus didorong. Jika setiap desa mampu mandiri mengelola potensinya melalui BUMDes, ketahanan ekonomi daerah akan semakin kokoh.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Subandi bersama jajaran pejabat daerah menyempatkan diri berkeliling area greenhouse, memetik, dan langsung mencicipi melon varietas Intanon yang baru saja dipotong.

"Rasanya manis sekali, teksturnya beda dan jauh lebih lezat dari melon pada umumnya," puji Subandi.

Ia juga menilai model pertanian modern di dalam greenhouse ini menjadi solusi cerdas di tengah ancaman cuaca ekstrem yang kerap membayangi petani konvensional. Melalui sistem ini, suhu dan kelembapan udara terkontrol ketat, sehingga tanaman aman dari serangan hama serta curah hujan berlebih.

"Kalau ditanam di sawah, saat musim hujan sering kali gagal panen. Di sini jauh lebih aman. Sekali tanam hanya butuh waktu 70 hari untuk panen dengan hasil yang menjanjikan, bisa mencapai Rp35 juta lebih. Desa-desa lain yang memiliki lahan kosong harus meniru langkah inovatif ini," tambahnya.

Sementara itu, Ketua BUMDes Gapura Candinegoro, Ahmad Wildani Arifana, mengungkapkan alasan di balik pemilihan komoditas melon. Karakter buah yang populer dan digemari oleh semua kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua, menjadi pertimbangan utama.

Dalam pengelolaannya, BUMDes Gapura menerapkan metode smart farming. Integrasi teknologi dalam pertanian hidroponik ini mempermudah pemantauan tumbuh kembang tanaman secara menyeluruh, mulai dari sistem perakaran, batang, hingga pembentukan buah.

"Melalui sistem digital ini, pengelola tidak perlu lagi mengecek kondisi fisik tanaman secara manual setiap pagi dan sore. Parameter krusial seperti suhu ruangan, tingkat keasaman (pH) air, hingga kecukupan nutrisi dapat dipantau secara efisien melalui layar monitor," jelas Wildani.

Berkat metode hidroponik terkontrol ini, kualitas melon yang dihasilkan dijamin masuk kategori kelas premium dengan daging buah yang lebih renyah, kadar kemanisan tinggi, serta bentuk dan warna yang lebih presisi.

Untuk pemasarannya sendiri, pengelola mengusung konsep wisata edukasi petik langsung dengan harga Rp30.000 per kilogram. Pada panen perdana ini, total omset buah diperkirakan menembus 1,5 ton dengan bobot per buah bervariasi antara 1,2 kilogram hingga 2,6 kilogram.
×
Berita Terbaru Update