Notification

×

Iklan

Iklan

Tangani Dampak Karhutla Gunung Arjuno, Pemprov Jatim dan Pemkab Pasuruan Siapkan Solusi Air Bersih Jangka Panjang

Rabu, 21 Oktober 2026 | Oktober 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-21T10:27:48Z

PASURUAN, pojoktelu.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kawasan Gunung Arjuno hingga kini masih terus diupayakan pemadamannya. Bencana ini tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga memutus jaringan distribusi air bersih bagi warga di Desa Jatiarjo dan Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Pasuruan bergerak cepat menyiapkan sejumlah rencana penanganan komprehensif, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Komitmen ini ditegaskan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo dalam rapat terbatas (ratas) yang digelar di Hutan Cempaka, Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Selasa (20/10/2026) malam.

Menurut Khofifah, kemarau panjang tahun ini memicu meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Jawa Timur. Oleh sebab itu, seluruh pihak harus bersatu padu mengatasi kebakaran sekaligus memitigasi dampak sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Perlu kerja sama dan koordinasi yang erat dari semua pihak. Semua harus fokus untuk percepatan penanganannya," ujar Khofifah di hadapan awak media.

Terkait pemadaman api, Khofifah menjelaskan bahwa pemerintah terus mengupayakan pengerahan helikopter untuk melakukan pengeboman air (water bombing). Upaya keras tim gabungan di lapangan pun mulai membuahkan hasil. Dari 637 titik panas (hotspot) yang tercatat hingga 19 Oktober 2026, kini tersisa 92 titik yang masih dalam proses pemadaman.

"Kita sedang mengomunikasikan agar mendapat tambahan bantuan heli untuk water bombing. Saya rasa dengan water bombing penanganan bisa lebih efektif. Dan tentu saja kita juga berharap turunnya hujan, kawan-kawan," imbuhnya.

Selain fokus memadamkan api, ratas tersebut secara khusus membahas rusaknya jaringan pipa air bersih warga akibat lahapan api. Kerusakan ini mengganggu pasokan air bersih, terutama bagi warga di kawasan dataran tinggi yang sulit dijangkau oleh armada mobil tangki air.

Khofifah memaparkan, untuk jangka pendek, intervensi dilakukan lewat distribusi (dropping) air bersih secara masif ke permukiman warga. Namun untuk jangka panjang, pemerintah harus menyiapkan sumber air alternatif agar pasokan tetap aman meski terjadi bencana di kemudian hari.

"Intinya, pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat semaksimal mungkin kita ikhtiarkan. Jangka pendeknya memang dropping air bersih, tapi jangka panjangnya harus ada solusi permanen, misalnya membangun sumur bor yang ditarik dengan pipa ke rumah warga," tegas Gubernur Jatim.

Senada dengan Khofifah, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menegaskan bahwa Pemkab Pasuruan telah merancang solusi permanen untuk mengatasi krisis air tersebut. Pihaknya berencana membangun tiga titik sumur bor baru, dengan rincian dua titik di Desa Jatiarjo dan satu titik di Desa Dayurejo.

"Pengeboran sumur ini menjadi solusi permanen agar ketika ada bencana seperti ini lagi, warga tidak sampai kekurangan air bersih. Untuk Desa Jatiarjo kemungkinan butuh dua titik pengeboran, sementara di Desa Dayurejo cukup satu titik," jelas pria yang akrab disapa Mas Rusdi tersebut.

Sembari menunggu proyek jangka panjang tersebut berjalan, Pemkab Pasuruan terus menyalurkan bantuan air bersih setiap hari ke desa-desa terdampak. Prioritas penyaluran menyasar tiga desa, yakni Desa Jatiarjo dan Dayurejo di Kecamatan Prigen, serta Desa Tambaksari di Kecamatan Purwodadi.

Mas Rusdi menambahkan bahwa jaringan pipa berbahan High Density Polyethylene (HDPE) dan PVC yang rusak akibat terbakar akan segera diganti dengan material yang lebih kokoh.

"Untuk perbaikan jaringan yang rusak sekarang, pipanya akan langsung kita ganti dengan pipa besi agar lebih kuat dan tahan dari kobaran api jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran lagi," pungkasnya.
×
Berita Terbaru Update