Notification

×

Iklan

Iklan

Umat Hindu Suku Tengger Tosari Gelar Upacara Yadnya Karo 2026 dengan Khidmat

Kamis, 30 Juli 2026 | Juli 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-30T08:19:57Z


PASURUAN, pojoktelu.com
Bertepatan dengan momentum bulan purnama dalam penanggalan Karo, masyarakat adat Suku Tengger kembali menggelar rangkaian upacara adat tahunan Yadnya Karo pada Rabu (29/7/2026).

Upacara sakral ini berpusat di Pendopo Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Acara ini dihadiri oleh ratusan umat Hindu setempat serta sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Setya Wardhana, dan Camat Tosari, Bachtiar.

Rangkaian ritual adat telah dimulai sejak sehari sebelumnya, Selasa (28/7/2026), melalui prosesi Resik Dhanyang Banyu, Nurunien, hingga Pencucian Jimat Kelontong. Memasuki hari kedua, Rabu (29/7/2026) subuh sekitar pukul 04.00 WIB, prosesi dilanjutkan dengan upacara Mbelaraki yang dipimpin langsung oleh para sesepuh adat setempat.

Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon, Romo Eko Warnoto, menjelaskan bahwa Yadnya Karo digelar sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah tiada (ngaluhur), sekaligus wujud bakti mendalam kepada Sang Pencipta.

"Upacara Karo ini merupakan simbolisasi dari sangkan paraning atau asal-usul penciptaan manusia, yang secara estetis dan filosofis digambarkan melalui pementasan Tari Sodor," ujar Romo Eko.

Tari Sodor memang menjadi ikon yang tidak terpisahkan dari Upacara Yadnya Karo. Romo Eko menambahkan, tarian sakral tersebut dibawakan secara bergantian oleh 13 kelompok penari yang merepresentasikan 11 desa di kawasan Tengger. Setelah pementasan tari usai, prosesi adat dilanjutkan dengan ritual Puja Stuti Jimat Kelontong sebelum benda pusaka tersebut disimpan kembali ke tempat suci.

Terkait ritual pembuka, Romo Eko menekankan pentingnya menjaga keselarasan makrokosmos dan mikrokosmos.

"Ritual Resik Dhanyang Banyu bertujuan untuk menyinkronkan alam semesta beserta isinya, termasuk diri manusia. Jika alam ini bersih, vibrasi kesuciannya tentu akan memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia," ungkapnya.

Bagi masyarakat Suku Tengger, pelaksanaan Yadnya Karo bukan sekadar rutinitas tahunan. Momentum ini menjadi pilar penting dalam merawat harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritualitas. Seluruh tahapan ritual dijalankan dengan penuh kekhidmatan demi menjaga kelestarian warisan budaya nusantara.

"Pesan kami sebagai sesepuh Tengger, terutama untuk generasi muda ingatlah selalu asal-usul dan jati diri Anda. Jangan sampai meninggalkan akar budaya. Lestarikan adat istiadat ini sebagai ungkapan terima kasih dan bakti kita kepada leluhur," pungkas Romo Eko penuh harap.

Melalui bimbingan para pandita adat dan dukungan aktif dari generasi muda, eksistensi serta kesakralan adat istiadat leluhur Suku Tengger di Pasuruan dipastikan akan tetap terjaga dan lestari melintasi zaman. (*)
×
Berita Terbaru Update