Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Sekadar Penghargaan, Subandi Dorong Inovasi Sidoarjo yang Mengubah Hidup Warga

Rabu, 16 September 2026 | September 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-16T14:28:15Z

SIDOARJO, pojoktelu.com - Bagi masyarakat, inovasi pemerintah bukan tentang seberapa canggih sebuah aplikasi, berapa banyak program yang diluncurkan, atau berapa banyak penghargaan yang berhasil dibawa pulang.

Ukuran sederhananya jauh lebih dekat: apakah pelayanan menjadi lebih mudah, persoalan lebih cepat diselesaikan, dan kehidupan warga menjadi lebih baik?

Pertanyaan itulah yang ingin dijawab Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo melalui Kompetisi Inovasi Sidoarjo (KISI) 2026.

KISI 2026 resmi dibuka Bupati Sidoarjo Subandi di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (16/9/2026). Mengusung tema “Inovasi Berdampak untuk Sidoarjo Maju, Inklusif, dan Berkelanjutan”, kompetisi ini diarahkan agar inovasi pemerintah tidak berhenti sebagai gagasan di ruang rapat atau sekadar mengejar piala. Subandi ingin setiap inovasi punya ujung yang jelas: masyarakat.

“Inovasi ini jangan hanya menjadi perlombaan tahunan, tetapi betul-betul harus dirasakan oleh masyarakat,” tegas Subandi.

Pesan itu disampaikan karena persoalan yang dihadapi warga tidak pernah berhenti pada angka-angka statistik. Di balik angka kemiskinan, pengangguran, stunting, pertumbuhan ekonomi, hingga persoalan lingkungan, terdapat kehidupan masyarakat yang membutuhkan kehadiran pemerintah secara nyata.

Sidoarjo memang mencatat sejumlah capaian pembangunan. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 mencapai 5,4 persen, sementara angka kemiskinan tercatat 4,40 persen.

Namun bagi Subandi, capaian tersebut bukan alasan untuk berhenti berbenah.

“Banyak permasalahan yang perlu kita selesaikan. Objek masalah masih banyak, sehingga kita harus punya inovasi. Ekonomi kita juga masih banyak problem,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong inovasi lahir dari seluruh lini pemerintahan. Bukan hanya dari OPD, tetapi juga sekretariat daerah, pemerintah desa hingga lingkungan pendidikan.

Sebab, persoalan warga sering kali justru ditemukan paling dekat dengan pelayanan di tingkat bawah. Keluhan soal pelayanan administrasi, kebutuhan kesehatan, persoalan lingkungan, penguatan ekonomi, hingga berbagai masalah sosial membutuhkan pemerintah yang mampu bergerak cepat dan menemukan cara kerja yang lebih sederhana.

Di titik inilah inovasi menurut Subandi harus bekerja. Bukan membuat masyarakat semakin bingung dengan prosedur baru, tetapi justru memangkas kerumitan. Bukan sekadar menghasilkan program baru, tetapi memastikan program tersebut menyelesaikan masalah.

Subandi juga mengingatkan agar penghargaan tidak menjadi tujuan utama. Predikat daerah terinovatif yang pernah diraih Sidoarjo harus diterjemahkan menjadi dorongan untuk terus memperbaiki kualitas pelayanan.

“Dengan penghargaan ini harus mengubah mindset. KISI hari ini untuk menunjang bapak dan ibu semua agar memudahkan pelayanan Kabupaten Sidoarjo,” katanya.

Penguatan inovasi itu juga dilakukan melalui SETIA (Sistem Elektronik Terintegrasi Inovasi Daerah). Sistem tersebut menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan inovasi daerah, mulai dari penjaringan gagasan, penerapan, pemantauan hingga evaluasi.

Dengan sistem tersebut, inovasi diharapkan tidak hanya muncul ketika kompetisi digelar. Gagasan yang baik dapat terus dikembangkan, diukur manfaatnya, kemudian direplikasi apabila terbukti mampu menyelesaikan persoalan.

Sementara itu, Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Mohammad Ainur Rahman menekankan bahwa banyaknya inovasi bukan ukuran utama keberhasilan.

“Bukan hanya jumlah inovasinya, tetapi yang paling penting adalah dampaknya,” tegasnya.

Menurut dia, kebutuhan masyarakat terus berubah. Pemerintah pun harus mampu mengikuti perubahan tersebut dengan membangun budaya kerja yang terbuka terhadap gagasan baru sekaligus berani menguji cara-cara berbeda dalam memberikan pelayanan.

Karena itu, gerakan satu perangkat daerah satu inovasi terus didorong. Setiap inovasi diharapkan memiliki dampak yang jelas, berorientasi pada hasil dan bukti, mampu mendorong modernisasi tata kelola serta daya saing daerah, membuka ruang partisipasi masyarakat, dan dapat bertahan serta dikembangkan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, keberhasilan KISI 2026 nantinya tidak semata-mata diukur dari siapa yang mendapatkan penghargaan.

Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak warga yang merasakan pelayanan lebih mudah, berapa banyak persoalan yang dapat diselesaikan lebih cepat, dan berapa banyak perubahan yang benar-benar bertahan setelah kompetisi berakhir.

Sebab pada akhirnya, inovasi pemerintah bukan tentang siapa yang paling hebat menciptakan gagasan, melainkan tentang seberapa nyata gagasan itu membuat hidup masyarakat menjadi lebih mudah.
×
Berita Terbaru Update