SIDOARJO, pojoktelu.com
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo saat ini tengah memperkuat upaya penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Hal ini dilakukan dengan melakukan pemetaan kondisi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang ada di berbagai wilayah. Senin,(08/06/26).
Selain pemetaan upaya penanganan sampah juga ditingkatkan dengan penguatan sistem pengelolaan berbasis digital. Serta peningkatan fasilitas pengolahan sampah di tingkat desa.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah krisis kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Griyo Mulyo Jabon yang di proyeksikan hanya menampung sampah hingga tujuh tahun ke depan jika pola pengelolaan saat ini tidak segera di benahi.
Bupati Sidoarjo, Subandi mengatakan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama mulai dari Pemerintah Daerah, Kecamatan, Desa, RT, hingga Masyarakat.
"Kita berusaha memetakan semua persoalan TPS 3R yang ada di Sidoarjo tugas penanganan sampah ini bukan hanya DLHK. Tetapi ini menjadi tugas kita bersama," ujar Subandi saat audiensi dengan Tim DLHK.
Dirinya menegaskan bahwa seluruh kebijakan penanganan sampah akan di petakan berdasarkan kebutuhan di lapangan dan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Menurutnya, langkah pembenahan barus segera dimulai agar persoalan sampah tidak semakin besae di masa yang akan mendatang.
"Kalau tidak hari ini, persoalan sampah tidak akan pernah selesai. Semua harus bergerak sesuai tigas masing-masing," tegasnya.
Selain itu, dirinya juga menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk memanfaatkan sistem dashboard digital dalam pengelolaan persampahan. Sistem tersebut akan digunakan untuk memantau kondisi TPS 3R pelayanan, pengangkut sampah, hingga tingkat retribusi yang di bayarkan masyarakat.
“Semua harus menggunakan dashboard. Nanti akan terlihat mana TPS3R yang sudah berjalan baik, mana yang perlu pembenahan, termasuk wilayah dengan retribusi rendah. Saya minta Kominfo membantu dari sisi teknologi informasinya,” kata Subandi.
Berdasarkan data DLHK Sidoarjo, timbulan sampah di Kabupaten Sidoarjo kini mencapai 892,26 ton per hari. Sebanyak 534 ton atau 59 persen di antaranya masih langsung dibuang ke TPA. Sementara itu, volume sampah tercampur yang masuk ke TPA mencapai 77,24 persen.
Praktik pembuangan sampah liar juga masih menjadi tantangan besar. Tercatat sekitar 86,58 ton atau 9,70 persen sampah harian warga belum terkelola dan dibuang di sembarang tempat.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Sidoarjo menyiapkan anggaran peningkatan fasilitas TPS3R. Dana sebesar Rp4,02 miliar dialokasikan untuk mempertahankan kinerja 22 TPS3R yang sudah berjalan baik. Selain itu, Rp14,12 miliar dikucurkan untuk mendongkrak kapasitas 77 TPS3R berkinerja sedang melalui pengadaan mesin pemilah, conveyor, insinerator, hingga kendaraan operasional roda tiga.
Berdasarkan evaluasi DLHK terhadap 210 TPS3R di Sidoarjo, sebanyak 86 unit masih berkinerja rendah dan 25 unit lainnya tidak aktif. Padahal, TPS3R menjadi ujung tombak pengelolaan sampah rumah tangga yang kini melayani sekitar 34,87 persen dari total 311.688 kepala keluarga.
Demi menegakkan aturan, Subandi meminta pemerintah desa memperketat pengawasan. Salah satu langkah konkretnya adalah pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik rawan pembuangan liar serta penerapan sanksi tegas bagi pelanggar.
“Kita harus memberikan efek jera kepada warga yang membuang sampah sembarangan. Setiap desa perlu memasang CCTV di lokasi rawan, dan mekanisme penindakannya akan segera kita siapkan,” jelasnya.
Melalui integrasi teknologi, optimalisasi TPS3R, peningkatan partisipasi warga, serta penguatan regulasi desa, Pemkab Sidoarjo optimistis dapat mewujudkan lingkungan yang bersih dan asri sekaligus menghindari ancaman krisis sampah.
“Kita ingin mewujudkan Sidoarjo yang asri. Semua pihak harus terlibat karena sampah adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Subandi. (*)
