Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Kampung hingga TPA, Enam Titik Jadi Arena Uji STBM Paripurna Sidoarjo

Rabu, 30 September 2026 | September 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-01T04:37:44Z

SIDOARJO, pojoktelu.com — Bukan cuma jamban bersih yang dicari. Tim verifikator STBM Award Paripurna tingkat nasional menyisir enam titik di Kabupaten Sidoarjo untuk melihat langsung bagaimana sanitasi, pengelolaan sampah, air minum, limbah hingga akses fasilitas publik benar-benar dijalankan.

Verifikasi lapangan berlangsung Rabu (30/9/2026). Tim Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri dan pendamping dari Jawa Timur turun langsung melihat kondisi di lapangan sebagai bagian dari penilaian STBM Award Paripurna 2026.

Enam titik tersebut tersebar mulai dari Puskesmas Gedangan, TPS3R Pelangi Desa Ketajen, PAMSIMAS Tirta Bening Desa Becirongengor, Kampung STBM Desa Bluru Kidul, IPLT UPTD PALD dan TPA Griyo Mulyo Jabon hingga Stasiun Sidoarjo.

Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo M. Ainur Rohman yang membuka verifikasi mengatakan, target utama STBM bukanlah penghargaan.

“STBM adalah sebuah kebutuhan kami. Ini bagian dari kebutuhan masyarakat. Jadi, meskipun tidak dikonteskan, kami tetap akan menggerakkan program STBM di masyarakat,” kata Ainur.

Pernyataan itu menjadi penting karena STBM pada dasarnya memang mengandalkan perubahan perilaku masyarakat. Kementerian Kesehatan menempatkan lima pilar sebagai fondasi, yakni Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Di Puskesmas Gedangan, tim memeriksa penerapan GEDSI. Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana akses layanan publik diberikan dengan mempertimbangkan gender, penyandang disabilitas dan inklusi sosial.

Di TPS3R Pelangi Desa Ketajen, fokus bergeser ke persoalan sampah. Pemilahan dan pengolahan sampah berbasis masyarakat menjadi bagian yang dilihat langsung.

Dari 346 desa/kelurahan di Sidoarjo, sekitar 210 telah memiliki TPS3R. Infrastruktur itu menjadi salah satu instrumen penting dalam pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.

Perjalanan berlanjut ke PAMSIMAS Tirta Bening. Hampir 300 sambungan rumah menjadi gambaran bagaimana akses air minum dibangun dan dikelola melalui pendekatan berbasis masyarakat.

Di Desa Bluru Kidul, penilaian semakin dekat dengan kehidupan warga. Kampung STBM di RT 14 RW 11 memperlihatkan penerapan lima pilar pada tingkat rumah tangga. Sebanyak 20 rumah menerapkan TGG sanitasi.

Warga juga memiliki tabungan TAMARA LLTT bersama Bank Delta Artha. Pengelolaan sampah dan air limbah rumah tangga dijalankan sebagai bagian dari kebiasaan lingkungan.

Setelah itu, tim menuju IPLT UPTD PALD Desa Kupang. Di sini, persoalan yang sering luput dari perhatian publik justru menjadi fokus: bagaimana lumpur tinja dikelola agar tidak berhenti pada proses penyedotan, tetapi masuk dalam sistem sanitasi yang aman.

Di lokasi berdekatan, tim juga meninjau TPA Griyo Mulyo untuk melihat pengelolaan sampah. Stasiun Sidoarjo kemudian menjadi lokasi terakhir. Di ruang publik ini, tim kembali melihat aspek GEDSI, terutama akses fasilitas yang dapat digunakan masyarakat secara inklusif.

Tim verifikator memberikan sejumlah catatan positif. Penerapan GEDSI di Stasiun Sidoarjo dan Puskesmas Gedangan dinilai sudah baik. Pemeliharaan fasilitas juga disebut cukup terjadwal.

Pemilahan sampah di Puskesmas Gedangan dinilai berjalan rutin. Pengelolaan di TPA Griyo Mulyo juga mendapat perhatian positif dari sisi mekanisme pengelolaannya.

Sementara penerapan STBM di Desa Bluru Kidul dinilai telah berjalan baik. Namun, tim mengingatkan bahwa keberhasilan STBM tidak boleh berhenti pada saat verifikasi.

“Secara umum sudah baik. Harapannya apa yang sudah diterapkan ini bisa terus dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan, sehingga benar-benar diterapkan oleh masyarakat,” ujar Johanes Eko Kristiyadi dari Kementerian Kesehatan.

Catatan tersebut menjadi pekerjaan berikutnya bagi Pemkab Sidoarjo. Sebab, capaian sanitasi daerah memang sudah menunjukkan perkembangan. Pada 2024 Sidoarjo mencapai status ODF, kemudian memperoleh STBM Award Pratama Nasional pada 2024 dan Madya Nasional pada 2025.

Data pemerintah daerah pada Juli 2026 juga mencatat 99,78 persen rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, 95,43 persen pengelolaan sampah rumah tangga dan 73,6 persen pengelolaan air limbah rumah tangga.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan, hasil verifikasi akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut.

“Dinkes akan menindaklanjutinya dan memastikan STBM 5 Pilar sampai pada level masyarakat rumah tangga,” ujarnya.
×
Berita Terbaru Update