MALANG KOTA, pojoktelu.com — Menjaga keamanan dan kondusivitas Kota Malang tidak hanya dilakukan melalui pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Lebih dari itu, merawat identitas, nilai budaya, dan kearifan lokal juga menjadi pilar penting yang harus terus dijaga.
Komitmen tersebut ditunjukkan oleh Polresta Malang Kota dengan mengajak warga melestarikan Boso Walikan atau Osob Kiwalan. Bahasa khas ini telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Arema.
Ajakan tersebut mengemuka dalam acara Temu Budaya Ngalam Hebak yang digelar Polresta Malang Kota bersama Pemerintah Kota Malang, akademisi, elemen masyarakat, serta penggiat budaya di Sanggar Sasana Krida Budaya, Kelurahan Rampal Celaket, Minggu (27/9/2026).
Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi, menyampaikan bahwa pelestarian Osob Kiwalan merupakan bagian dari upaya menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap Kota Malang. Menurutnya, bahasa ini memiliki karakter unik yang membedakan Malang dengan daerah lain.
“Osob Kiwalan sudah menjadi identitas dan ciri khas Kota Malang. Kita perlu menjaga, melestarikan, dan terus mengenalkannya kepada masyarakat luas,” ujar Danang.
Ia menjelaskan, gagasan ini lahir dari diskusi hangat bersama para akademisi dan berbagai elemen masyarakat. Pelestarian budaya dinilai perlu dilakukan secara bergotong-royong agar nilai kebersamaan dan karakter masyarakat Malangan tetap kokoh di tengah gempuran zaman.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Ini adalah gerakan bersama untuk merawat identitas, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur Kota Malang,” tegasnya.
Danang juga mengingatkan bahwa Kota Malang memiliki sejarah panjang sebagai daerah yang melahirkan banyak atlet, pesepak bola, budayawan, hingga seniman berprestasi. Kekuatan karakter tersebut perlu terus dihidupkan melalui kolaborasi lintas sektor guna mendukung citra Malang sebagai kota pendidikan, wisata, dan kuliner.
“Intinya, kita harus merasa memiliki Kota Malang dengan cara bekerja, menjaga, dan merawatnya bersama-sama,” imbuhnya.
Ditempat yang sama, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah inovatif Polresta Malang Kota dalam mendorong pelestarian Osob Kiwalan. Ia menilai gerakan ini sangat sejalan dengan arah pembangunan daerah melalui semangat Malang Mbois Berkelas.
Wahyu memaparkan bahwa Osob Kiwalan memiliki nilai sejarah perjuangan yang sangat kuat. Bahasa sandi ini dahulu digunakan oleh para pejuang, salah satunya dikaitkan erat dengan pahlawan lokal legendaris, Mayor Hamid Rusdi, untuk mengelabui musuh.
“Osob Kiwalan merupakan kearifan lokal yang unik dan menjadi simbol kekompakan masyarakat Malangan. Tradisi lisan ini harus terus dijaga agar tidak punah tergerus waktu,” kata Wahyu.
Menurut Wahyu, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan potensi lokal. Keberadaan ruang kebudayaan seperti di Kampung Celaket menjadi bagian penting dalam menjaga keberagaman dan denyut kehidupan budaya di Kota Malang.
Ia menambahkan, semangat Malang Mbois terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Termasuk warga dari luar daerah yang saat ini tinggal maupun menempuh studi di Kota Malang. Oleh karena itu, pelestarian budaya diharapkan mampu menjadi ruang inklusif untuk memperkuat persatuan.
Melalui Temu Budaya Ngalam Hebak ini, sinergi antara Polresta Malang Kota, Pemkot Malang, akademisi, komunitas, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial belaka. Gerakan ini diarahkan menjadi program berkelanjutan untuk mengenalkan, menggunakan, dan menjaga Osob Kiwalan sebagai warisan budaya abadi.
Dengan kolaborasi yang solid, upaya menjaga kondusivitas wilayah kini dapat berjalan selaras dengan pelestarian budaya lokal. Kota Malang tidak hanya diharapkan menjadi kota yang aman dan nyaman, tetapi juga kota yang tetap memegang teguh karakter budayanya yang kuat untuk diwariskan kepada generasi masa depan.
