SIDOARJO, pojoktelu.com - Menjaga kesehatan jantung perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari mengatur pola makan hingga rutin melakukan aktivitas fisik. Langkah pencegahan ini krusial untuk menekan risiko penyakit jantung yang hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Sidoarjo, dr. Sriatun Subandi, menyampaikan bahwa penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Mengkhawatirkannya lagi, penyakit mematikan ini kini mulai bergeser dan menyasar kalangan usia muda.
Menurut dr. Sriatun, besarnya persoalan penyakit kardiovaskular ini juga terlihat dari beban pembiayaan negara yang sangat tinggi. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat, pembiayaan untuk penyakit jantung dan stroke menembus Rp22,8 triliun dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2023.
Selain itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85 persen pada penduduk semua umur.
Ia menambahkan, upaya pencegahan harus digalakkan dengan membangun kebiasaan hidup sehat langsung di tengah masyarakat. Terlebih, sebagian besar faktor risiko penyakit jantung berkaitan erat dengan perilaku sehari-hari.
Beberapa di antaranya meliputi kurangnya aktivitas fisik, minimnya konsumsi buah dan sayur, kebiasaan merokok, serta konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan.
"Karena itu, upaya promotif dan preventif perlu terus dilakukan. Masyarakat harus semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan jantung melalui pola hidup sehat, termasuk rutin bergerak dan memperhatikan asupan makanan sehari-hari," ujar dr. Sriatun dalam seminar peringatan Hari Jantung Sedunia di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (22/10/2026).
Seminar yang mengusung tema "45 Tahun Menjaga Masa Depan Negeri" ini juga menekankan perlunya membangun kesadaran sejak dini. Merujuk data SKI 2023, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter pada kelompok usia 25–34 tahun sudah berada di angka 0,15 persen.
Angka ini menjadi alarm keras bahwa menjaga kesehatan jantung tidak lagi hanya menjadi urusan kelompok lanjut usia (lansia), melainkan juga tanggung jawab generasi muda.
Lebih lanjut, dr. Sriatun mengapresiasi peran aktif YJI yang terus konsisten mendorong masyarakat untuk hidup sehat. Namun, ia mengingatkan bahwa gerakan ini tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, keluarga, hingga lingkungan masyarakat.
"Kami bangga dengan adanya YJI ini. Sebab, menjaga kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya pencegahan dan membiasakan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.
Selain seminar, peringatan Hari Jantung Sedunia di Sidoarjo ini berlangsung semarak dengan berbagai rangkaian kegiatan. Di antaranya penyerahan penghargaan lomba Senam Jantung Sehat beregu antarkelompok Klub Jantung Sehat (KJS), pembagian paket sembako bagi penderita penyakit jantung, serta pemeriksaan kesehatan jantung gratis.
Agenda ini sukses menyedot perhatian ratusan peserta yang terdiri dari masyarakat umum, komunitas olahraga, kepala puskesmas, hingga berbagai organisasi terkait. Melalui gerakan ini, YJI Sidoarjo berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan deteksi dini penyakit jantung dapat meningkat secara signifikan.
