Notification

×

Iklan

Iklan

Tata Kawasan Perbatasan Sidoarjo–Surabaya, Bupati Subandi Siapkan Pembangunan Gapura Jenggala

Jumat, 23 Oktober 2026 | Oktober 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-24T05:06:15Z

SIDOARJO, pojoktelu.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo berencana melakukan penataan besar-besaran di kawasan perbatasan Sidoarjo–Surabaya. Sebagai ikon utama dalam penataan tersebut, pemerintah daerah bakal membangun Gapura Jenggala berukuran megah.

Langkah ini diambil untuk mempertegas batas wilayah administrasi, sekaligus mengangkat kembali nilai-nilai sejarah serta kearifan lokal Sidoarjo. Kawasan perbatasan yang menjadi fokus penataan ini menghubungkan Kelurahan Menanggal (Kecamatan Gayungan, Surabaya) dengan Desa Wadungasri (Kecamatan Waru, Sidoarjo).

Penataan dinilai mendesak agar lingkungan perbatasan tampil lebih tertib, rapi, serta memiliki penanda ruang (landmark) yang kuat dan estetik.

Bupati Sidoarjo, Subandi, menyatakan bahwa rencana pembangunan Gapura Jenggala akan dibahas secara mendalam bersama Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo. Hal ini dilakukan guna memastikan desain gapura benar-benar matang dan kontekstual terhadap narasi sejarah daerah.

"Mudah-mudahan kawasan perbatasan ini bisa ditata ulang sesuai kearifan lokal. Kita ingin mengembalikan nilai-nilai lokal di situ, supaya batas wilayah Surabaya dan Sidoarjo terlihat jelas, sekaligus mengangkat kembali sejarah Sidoarjo," ujar Subandi saat meninjau lokasi perbatasan, Jumat (23/10/2026).

Dalam peninjauan tersebut, Subandi didampingi oleh Wakil Ketua III DPRD Sidoarjo Warih Andono, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo Arif Mulyono, serta Kepala BNN Kabupaten Sidoarjo Kombes Pol Gatot Soegeng Soesanto.

Terkait spesifikasi fisik bangunan, gapura tersebut diproyeksikan memiliki lebar minimal 2,5 meter dengan bentang panjang sekitar 7 hingga 8 meter. Dimensi pasti bangunan nantinya akan disesuaikan dengan daya dukung dan kondisi riil di lapangan.

"Desainnya akan dimatangkan terlebih dahulu agar benar-benar mencerminkan identitas Sidoarjo. Kita ingin setiap daerah menampilkan karakteristik sejarahnya masing-masing," kata Subandi menambahkan.

Selain pembangunan gapura, penataan kawasan ini juga mencakup pembenahan taman dan perbaikan estetika lingkungan. Saat ini, Pemkab Sidoarjo tengah menyusun rencana dan desain tata ruang agar proses penataan berjalan lebih terarah.

Menariknya, penataan tidak hanya berfokus pada fisik gapura, melainkan juga menyentuh aspek sosial dan kelancaran lalu lintas. Pemkab Sidoarjo berencana mendata pedagang kaki lima (PKL) di sekitar lokasi, sekaligus menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan.

Guna mendukung kelancaran arus lalu lintas, Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo diinstruksikan untuk melakukan kajian di titik-titik rawan kemacetan akibat parkir liar di bahu jalan. Hasil kajian ini nantinya akan menjadi dasar penetapan dan pemasangan rambu-rambu larangan parkir.

"Kami meminta Dishub rutin melakukan patroli agar pengendara tidak memarkir kendaraannya sembarangan. Penataan estetika kawasan harus berjalan beriringan dengan kelancaran arus lalu lintas," tutur Subandi tegas.

Proyek penataan kawasan perbatasan ini akan dilaksanakan secara bertahap. Setelah titik Sidoarjo–Surabaya rampung, Pemkab Sidoarjo menjadwalkan penataan serupa di titik perbatasan daerah lain, seperti batas wilayah Sidoarjo–Pasuruan dan Sidoarjo–Mojokerto.

Melalui program penataan ini, kawasan perbatasan diharapkan tidak sekadar menjadi perlintasan kendaraan, melainkan bertransformasi menjadi landmark kebanggaan warga yang sarat akan nilai kebudayaan.
×
Berita Terbaru Update