PASURUAN, pojoktelu.com
Komunitas Seven Project sukses menggelar Podcast BISA (Bincang Santai Anak Desa) edisi ketiga pada Kamis malam. Bertempat di Cafe Kopirex Gank Randupitu, diskusi publik ini mengusung tema filosofis yang mendalam: "Suket Teki Jadi Padi: Didikan Orang Tua Desa Cetak Anak Sukses".
Acara yang dipandu oleh Suudin Zuhri selaku moderator ini menghadirkan tiga narasumber lintas sektor. Mereka adalah Dina Aulia Fajrin (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang), Bunda Ningsih (Kepala PAUD Anggrek), serta Gus Ilul dari lingkungan Pondok Pesantren Cangaan Bangil.
Dalam pembukaannya, Suudin Zuhri menegaskan bahwa label "anak desa" tidak boleh lagi dipandang sebelah mata. Lewat pendidikan, kerja keras, dan dukungan penuh keluarga, anak desa mampu bertransformasi menjadi pribadi yang sukses dan bermanfaat.
"Tidak semua suket teki (rumput teki) menjadi benalu. Anak desa juga mampu menjadi padi yang berguna bagi banyak orang," tegas Suudin.
Sebagai praktisi pendidikan anak usia dini, Bunda Ningsih menekankan bahwa keberhasilan anak tidak ditentukan oleh keterbatasan masa kecilnya, melainkan oleh pola asuh yang diterapkan sejak dini melalui kebiasaan di rumah. Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak kaku dalam mendidik.
"Didiklah anak sesuai zamannya. Pendekatan pengasuhan harus berubah mengikuti era mereka," jelas Bunda Ningsih. Ia menambahkan, guru di sekolah juga wajib mengedukasi orang tua agar nilai-nilai kebaikan yang diajarkan tetap selaras saat di rumah.
Dari sudut pandang psikologi, Dina Aulia Fajrin menjelaskan konsep observational learning. Ia memaparkan bahwa anak-anak belajar bukan sekadar dari apa yang mereka dengar, melainkan dari apa yang mereka lihat setiap hari dari perilaku orang tua.
"Anak bukan hanya mendengar nasihat, tetapi juga meniru apa yang mereka lihat," ujar Dina.
Dina kemudian membagikan pengalaman pribadinya sebagai mantan atlet bulu tangkis yang kini menempuh pendidikan tinggi. Menurutnya, kebebasan memilih jalan hidup yang bertanggung jawab serta dukungan penuh dari orang tua menjadi kunci kesuksesannya.
Sementara itu, Gus Ilul menyoroti pentingnya sinergi segitiga antara orang tua, guru, dan anak untuk menghadapi tantangan berat era digital dan pengaruh media sosial.
"Kalau moral ingin kuat, pondasinya adalah akhlak. Orang tua harus membangun kedekatan emosional agar nasihatnya lebih didengar oleh anak daripada pengaruh luar," tutur Gus Ilul.
Inisiatif positif ini mendapat apresiasi penuh dari Pemerintah Desa setempat. Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang edukasi yang sangat berharga bagi masyarakat untuk memahami pentingnya peran aktif orang tua selama masa tumbuh kembang anak.
“Kegiatan ini menjadi ruang dialog yang dikemas santai, sekaligus mengajak masyarakat melihat betapa vitalnya peran orang tua dalam mendampingi anak di era sekarang,” ujar Fuad.
Lebih lanjut, Fuad menyoroti bahwa tantangan mendidik anak zaman sekarang jauh lebih berat karena mereka tumbuh di era digital sebagai generasi gadget. Ia berharap lewat dukungan keluarga yang solid, lingkungan yang sehat, serta akses pendidikan yang baik, generasi muda Randupitu mampu menjadi motor penggerak pembangunan desa yang berdaya saing tinggi.
“Karena itu, orang tua wajib hadir sebagai pendamping dan teladan utama agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa kehilangan nilai akhlak, etika, dan semangat belajar. Kami percaya, Randupitu Bisa,” pungkas Fuad optimis. (*)
