![]() |
| Sc ; Int ITN |
Pasuruan, PojokTelu.com
Aroma persaingan, adu strategi, dan ketegangan menyelimuti Aula Kampus 1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang saat puluhan robot melesat memburu garis finish. Di tengah lintasan sempit penuh jebakan dan percabangan yang membuat banyak peserta kehilangan arah, satu nama kembali berdiri di puncak MAN 1 Pasuruan.
Melalui Tim Rampas Voltaris, madrasah kebanggaan Kabupaten Pasuruan itu sukses meraih Juara 1 Line Tracer Competition Vol. 3 sekaligus mempertahankan status sebagai juara bertahan yang mereka raih pada edisi sebelumnya. Kemenangan ini semakin menegaskan dominasi MAN 1 Pasuruan sebagai salah satu kekuatan utama robotika pelajar di Jawa Timur bahkan Indonesia.
Ajang bergengsi yang digelar pada Sabtu, (11/07/2026). Oleh ITN Malang tersebut mempertemukan 16 tim terbaik dari berbagai SMA, SMK, dan MA di Jawa Timur dalam kompetisi robot line tracer bertema filosofis “Trace The Line, Define Your Future”, sebuah pesan yang menggambarkan bagaimana ketepatan membaca jalur hari ini akan menentukan arah masa depan para inovator muda Indonesia.
Di balik keberhasilan itu berdiri tiga siswa berbakat, yakni Raditya Sulistyo Rahardjo sebagai ketua tim, bersama Sindi Putri Wulandari dan Kharissa Naurah Rayyani. Ketiganya tampil impresif di bawah bimbingan guru pembina Widi Wijaya, S.Kom.
Namun kemenangan tersebut tidak diraih dengan mudah. Sirkuit berukuran hanya sekitar 6 x 4 meter yang disiapkan panitia justru menjadi momok bagi para peserta. Jalur bercabang, tikungan tajam, hingga jebakan lintasan palsu membuat banyak robot kehilangan orientasi hanya dalam hitungan detik.
Raditya mengaku bahkan hingga usai perlombaan dirinya masih sulit mempercayai bahwa timnya berhasil keluar sebagai juara.
"Saya sangat senang sekali dan masih tidak menyangka bisa memenangkan perlombaan ini. Jujur, sirkuit kemarin merupakan salah satu yang tersulit yang pernah saya ikuti. Kami berulang kali mengubah setting untuk mencari jalur paling aman dan optimal," ungkapnya.
Di balik performa presisi robot Rampas Voltaris, tersimpan strategi yang terbilang sederhana namun efektif. Setelah proses pemrograman selesai, tim selalu merekam pergerakan robot di lintasan lalu memutarnya kembali menggunakan fitur slow motion untuk mengevaluasi akurasi sensor dan respon motor terhadap kondisi arena.
Cara tersebut terbukti mampu meningkatkan ketepatan robot dalam membaca garis dan menentukan keputusan di setiap percabangan.
"Strategi kami, setelah robot selesai diprogram, robot dijalankan lalu direkam gerakannya. Setelah berhenti, rekaman diputar dengan slow motion untuk melihat seakurat apa sensor dan gerakan robot berjalan di arena," jelas Raditya.
Perjuangan mereka semakin terasa istimewa karena persiapan yang dilakukan jauh dari kata ideal. Meski direncanakan berlatih selama satu bulan penuh, berbagai kendala teknis justru datang silih berganti.
Mulai dari komponen yang rusak hingga modul ESP32 yang tiba-tiba mengalami korsleting membuat mereka praktis hanya memiliki waktu latihan efektif selama delapan hari.
![]() |
| Source : ITN |
Meski demikian, keterbatasan waktu justru berubah menjadi motivasi untuk tampil lebih fokus dan efisien.
"Meski waktu latihan terbatas, alhamdulillah kami bisa tampil maksimal," tambahnya.
Raditya juga memberikan apresiasi kepada panitia ITN Malang yang dinilai sangat profesional dalam menyelenggarakan kompetisi. Salah satu inovasi yang mendapat pujian adalah penerapan sistem Video Assistant Referee (VAR) untuk memverifikasi keputusan di setiap pertandingan serta standar kebersihan lintasan yang dijaga dengan baik sehingga meminimalkan gangguan pembacaan sensor robot.
Kemenangan Rampas Voltaris sejatinya bukanlah kejutan. Selama beberapa tahun terakhir, MAN 1 Pasuruan menjelma menjadi salah satu madrasah dengan tradisi robotika paling kuat di Indonesia. Deretan prestasi nasional hingga internasional terus lahir dari laboratorium robotika sekolah tersebut.
Pada 2025, siswa MAN 1 Pasuruan berhasil menjuarai kompetisi robotika nasional di Surabaya dan membawa pulang fasilitas free pass masuk perguruan tinggi vokasi ternama. Salah satu nama yang turut menjadi juara saat itu adalah Raditya Sulistyo Rahardjo, sosok yang kini kembali mengantar madrasahnya berjaya di ITN Malang.
Tak hanya itu, MAN 1 Pasuruan juga tercatat pernah meraih prestasi di berbagai ajang robotika internasional di Malaysia, Jepang hingga Korea Selatan, mulai dari kategori line follower, line maze, hingga time rush robotics. Bahkan sekolah ini pernah menyabet medali emas dalam ajang Robofest Japan, World Robotic Competition Malaysia, hingga RBTX Challenge Kuala Lumpur.
Rekam jejak tersebut menjadikan MAN 1 Pasuruan bukan sekadar peserta, melainkan salah satu barometer pembinaan robotika tingkat pelajar di Jawa Timur.
Keberhasilan mempertahankan mahkota juara di ITN Malang pun menjadi bukti bahwa tradisi prestasi itu terus berlanjut.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan otomasi, para siswa MAN 1 Pasuruan kembali mengirim pesan kuat bahwa masa depan teknologi Indonesia sedang dipersiapkan dari ruang-ruang laboratorium sekolah, dari barisan sensor kecil yang membaca garis demi garis, menuju mimpi yang jauh lebih besar.
Disisi lain, Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Pasuruan (MAN 1 Pasuruan ) H. Nassrudin mengaku bangga dengan prestasi yang digapai anak didiknya tersebut.
"Kami sangat bersyukur dan bangga atas capaian luar biasa yang kembali ditorehkan oleh siswa-siswi MAN 1 Pasuruan pada ajang Line Tracer Competition Vol. 3 di ITN Malang," Pungkas Kepala MAN 1 Pasuruan.
Menurutnya, Prestasi ini bukan sekadar kemenangan dalam sebuah perlombaan, tetapi menjadi bukti bahwa madrasah mampu melahirkan generasi unggul yang tidak hanya kuat dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga kompetitif dalam penguasaan teknologi dan inovasi di era digital.
Keberhasilan Tim Rampas Voltaris mempertahankan gelar juara menunjukkan konsistensi, kerja keras, disiplin, serta semangat pantang menyerah para siswa dan pembinanya. Apalagi mereka harus menghadapi berbagai kendala teknis selama persiapan, namun mampu mengubah tantangan tersebut menjadi motivasi untuk memberikan yang terbaik.
"Kami berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh siswa MAN 1 Pasuruan untuk terus berani bermimpi, berinovasi, dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. MAN 1 Pasuruan akan terus berkomitmen mendukung pengembangan talenta peserta didik di bidang sains, teknologi, robotika, dan riset sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi emas Indonesia menuju Indonesia Emas 2045." Tutupnya. (Tom)

